Indonesia bakal Produksi Alat Deteksi Nuklir Sendiri


Print Friendly, PDF & Email

JawaPos.com – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mencatat Indonesia kini baru memiliki enam radiaton portal monitor (RPM). Seluruhnya dipasang di enam pelabuhan laut, yakni Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Batu Ampar Batam, Belawan Medan, Bitung Manado, dan Soekarno-Hatta Makassar.

Sedangkan idealnya, setiap negara harus memiliki RPM di seluruh pelabuhan, objek vital, perbatasan darat, dan bandar udara (bandara).

Kepala Biro Hukum dan Organisasi Bapeten Taruniyati Handayani mengatakan, keenam RPM yang dimiliki merupakan hibah dari Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA).

“Jadi kita namanya hibah berarti kan barangnya saja bukan made in Indonesia, sekarang ada wacana dari Kemenkopolhukam jadi dikoordinasikan untuk membuat RPM dalam negeri,” ujarnya dalam acara Edukasi Publik Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir, di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Selasa (25/9).

Kemudian nantinya, produksi akan dilakukan dengan kolaborasi oleh instansi-instansi terkait. Di antaranya Kemenristekdikti, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan dikoordinasi oleh Kemenko Polhukam.

“Ini sebetulnya sekarang sedang dalam tahap prototype, nanti yang diminta untuk bikin produknya itu adalah BUMN, Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang di Bandung,” kata Runi.

Peran BAPETEN dalam hal ini hanya melakukan pengawasan dan memastikan produksi memenuhi standar keamanan dan keselamatan.

“Sehingga ketika digunakan mereka memang benar-benar bisa mendeteksi zat radioaktif. Dan kami akan menjadi lembaga pengawasannya apakah nanti yang mereka pasang-pasang sudah sesuai dengan prosedur,” tegas dia.

Meski berfungsi untuk mendeteksi keberadaan zat radioaktif dan atau bahan nuklir, RPM sendiri tidak mengandung zat dan unsur tersebut. Jika masyarakat ingin memilikinya, tidak perlu meminta izin dari BAPETEN.

“Alat itu nggak punya zat radioaktif sehingga kalau beli, nggak perlu minta izin BAPETEN. Dia justru untuk mendeteksi kalau ada zat radioaktif lewat, tapi alatnya itu sendiri tidak mengandung zat radioaktif,” pungkasnya.

(Jawapos.com, 26 September 2018)

Tags:

Comments & Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *